KAMPAI---Meskipun baru seumur jagung di
mekarkannya Kedaton menjadi Kecamatan ke 13 dan termuda di Bumi
Sebimbing Sekundang ini, sudah beberapa kali mengalami musibah, mulai
dari kebakaran hutan hingga banjir.
Pada musim hujan di awal tahun 2016 ini masyarakat Kecamatan Kedaton Peninjauan Raya ( KPR ) di landa banjir berkali kali, bahkan sepekan terkhir sudah menyebabkan 4 sekolah di liburkan.
Kondisi banjir yang tak juga kunjung surut, di dua Kecamatan dalam wilayah Kabupaten Ogan Komering Ulu ( OKU ) Sumatera Selatan sepekan terakhir, membuat orang nomor satu di Kecamatan Kedaton Peninjauan Raya ( KPR ) terjun kelapangan.
Pada musim hujan di awal tahun 2016 ini masyarakat Kecamatan Kedaton Peninjauan Raya ( KPR ) di landa banjir berkali kali, bahkan sepekan terkhir sudah menyebabkan 4 sekolah di liburkan.
Kondisi banjir yang tak juga kunjung surut, di dua Kecamatan dalam wilayah Kabupaten Ogan Komering Ulu ( OKU ) Sumatera Selatan sepekan terakhir, membuat orang nomor satu di Kecamatan Kedaton Peninjauan Raya ( KPR ) terjun kelapangan.
Dari 8 Desa dalam wilayah Kecamatan
KPR ada 6 Desa yang dilanda banjir yang kedalamannya mencapai 1 meter
lebih, bahkan akibat bajir tersebut 4 sekolah dasar terpaksa di
Liburkan.
Hal ini di katakan oleh Yudo, Kepala
Sekolah SDN 174 Desa Kampai saat mendapingi Camat KPR meninjau lokasi
sekolah yang terendam banjir.
“Menang ruang belajar belum terendam
banjir, tapi kantor sekolah, ruang perpustakaan dan laboratorium, sudah
sedalam 10 cm, apalagi akses jalan menuju Gedung sekolah kedalamannya
sedada orang dewasa,” kata Kepsek SDN 174 pada Minggu (20/3) di Desa
Kampai.
Menurutnya, hal inilah yang
menyebabkan pihaknya terpaksa meliburkan sekolah, di samping akses
menuju sekolah sangat sulit, dan berbahaya bagi siswa jika sekolah tidak
di liburkan.
“Di halaman sekolah kedalamannya
sedada orang dewasa, apalagi siswa dan siswi sekolah, kami tidak berani
mengambil resiko, apalagi untuk siswa dan siswi kelas 1 sampai kelas 3
yang masih kecil – kecil,”ujarnya.
Disisi lain, Kepala Desa Kampai Indra
Gunawan berharap agar Pemerintah khususnya pihak terkait dapat
memberikan solusi agar para siswa dan siswi tidak terganggu dalam
kegiatan belajar mengajarnya.
“Paling tidak kami minta di buatkan
jembatan dari jalan Cor Beton Desa, menuju Gedung sekolah, yang nantinya
ketika banjir tiba anak- anak tetap bisa sekolah,”ujar Kapala Desa
Kampai yang setiap tahun desanya menjadi langganan banjir.
Sementara, itu Camat Kedaton
Peninjauan Raya ( KPR ) Yoyin Arifianto,SIP.MSI yang didampingi Sekcam
Halim Burni, S.sos meskipun hari libur, tetap bekerja, untuk meninjau
langsung beberapa Desa yang di landa banjir, dalam wilayah kerjanya.
“Memang hari ini hari libur, tapi persoalan di desa kita juga harus tau secara langsung, untuk melihat kondisi warga dan memastikan apa langkah yang akan di ambil kedepan,”kata Camat KPR Yoyin Arifianto.
Masih kata Camat KPR, persoalan banjir
ini, memang kehendak alam, akan tatapi dampak yang di timbulkan akibat
banjir ini begitu banyak, dan ini harus menjadi perhatian dan di carikan
solusinya.
“Kalau aktiifitas warga terganggu,
sudah pasti perekonomian masyarakat juga terganggu, akibat banjir ini,
warga tidak bisa nyadap karet, ladang mereka rusak (padi dan sayur),
bahkan kendaraan dan hewan ternak warga juga terpaksa di ungsikan ke
tempat yang lebih tinggim,”jelasnya.
Dia menambahkan, akibat banjir yang
tak kunjung surut, puluhan hektar sawah warga terancam gagal panen, yang
dikarenakan tenggelam selama sepekan.
“Ada 6 desa yang di kunjungi, 4 desa
diantaranya cukup parah, yakni Desa Kampai, Lubuk Kemiling, Kedaton,
dan Rantau Panjang, sedangkan Desa Suka Pindah dan Bunglai hanya
sebagian, dan perihal ini akan di laporkan ke Bupati,” mbuhnya.
Pantauan sumateradeadline.com di
lapangan, di dua desa aktifitas warga nyaris lumpuh, rata – rata mereka
menggunakan perahu untuk melakukan aktivitas. Bahkan akses jalan menuju
desa Lubuk Kemiling sepanjang 1 km kedalamannya sudah mencapai 140 cm,
yang hanya bisa di tempuh dengan menggunakan perahu.(Rud).



